Minggu, 29 November 2009

REUNI / NOSTALGIA

Paling senang kalau berkumpul dengan teman-teman. Apa lagi dengan teman sekolah dahulu, baik teman di masa kuliah, masa SMA, SMP bahkan teman sewaktu SD. Seringnya berkumpul dengan teman-teman “jadul” alias jaman dulu, disebabkan karena kemudahan sarana komunikasi yang kian canggih melalui situs pertemanan di internet, baik Friendster, Twitter, MySpace, dan terutama Facebook.

 

Tentu saja bila bertemu, diisi dengan acara bernostalgia, berbagi cerita di masa lalu, ketika masih “jahiliyah” atau lagi “lucu-lucunya”. Acara pertemuan diatur sedemikian rupa, misalnya dengan tema “25 Tahun Kelulusan SMA” atau 20 tahun Lulus Kuliah, Small Reunion, Reuni Akbar, dan sebagainya.

 

Kita memang seringkali terbuai dengan kenangan masa lalu. Lagu-lagu juga acapkali berkisah tentang masa lalu seperti “Kenangan Yang Terindah”, “Memori”, “Lirih” dan lain-lain. Betapa indahnya kejadian atau peristiwa saat itu seakan-akan kita ingin mengulang kembali. Tentu saja yang kita ingat dan ingin kembali adalah masa-masa yang indah. Klub masa lalu pun bermunculan, misalnya Club Nostalgia, Komunitas 80’an untuk yang mengalami masa remaja di sekitar tahun 1980. Bahkan ada acara TV favorit seperti “Zona 80”, “Legendary Album”, “Dari Masa ke Masa” dan acara televisi lainnya yang memutar lagu atau video klip kenangan di masa lalu.

 

Ketika lagu kenangan diputar, ingatan kita langsung tertuju kepada masa lalu, misalnya saat-saat paling berkesan di masa remaja yang penuh dengan kenangan romantis, kisah cinta. ”Adakah semua kan terulang kisah cintaku yang seperti dulu.. hanya dirimu yang kucinta dan kukenang di dalam hatiku takkan pernah hilang.. bayangan dirimu untuk selamanya...” Begitulah sepenggal lagu mengenang indahnya masa lalu…

 

Masa lalu, betapapun indahnya, betapapun manisnya kenangan, tetap saja tidak dapat terulang, meskipun kita sangat mendambakannya, sedangkan bila kita terus-menerus mengenangnya tentu akan larut, membuat kita terbuai dan berangan-angan kosong. tentu saja semua ini menghabiskan banyak waktu yang sia-sia.

 

Masa lalu tidak saja kenangan indah, tapi juga kegetiran, kesedihan, kegundahan, keterpurukan, dan hal yang tidak mengenakkan lainnya. Disamping itu, juga banyak cacat cela, kebodohan, kekhilafan, dan bahkan dosa-dosa yang pernah kita lakukan, baik dosa besar maupun kecil yang tidak ingin kita mengingatnya. Kita tentu berharap bila doa sudah dipanjatkan, tentu Allah Yang Maha Pengampun dan Penerima Tobat akan mengampuni semua dosa-dosa kita. Keyakinan ini membuat kita merasa optimis. Namun hendaklah kita “mengenang” dosa kita sebagai sarana untuk bermuhasabah atau introspeksi diri.

 

Melihat perjalanan hidup di masa lalu adalah cara agar kita bisa melakukan introspeksi. Untuk itu kita harus mengenal diri kita, hakekat dan jati diri kita. Dari mana berasal, siapa diri kita, apa yang kita cari? dan mau kemana kita kelak? Pertanyan itu harus senantiasa terhujam di hati kita.

 

Evaluasi perjalanan kehidupan sangat penting, karena ada beberapa fase yang harus kita lalui. Setelah dari rahim ibu, lalu hidup di dunia, masih ada fase yang harus kita tempuh yakni mati dan kehidupan setelah kematian (akhirat). Kualitas kehidupan kita di akhirat tergantung dari amal perbuatan kita di dunia. Muhasabah (introspeksi) itu berguna untuk melihat sejauh mana hidup kita bermanfaat. Dan apakah kita sudah melakukan perbaikan dari kesalahan dan dosa di masa lalu? “Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal dahulunya kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian dia mematikan kamu, kemudian kamu menghidupkan kamu kembali, lalu kepadaNya kamu dikembalikan? (Qs Al Baqarah : 28)

 

Saat ini kita sedang menjalani salah satu fase, yakni kehidupan di dunia. Fase ini merupakan fase yang sangat penting. Setiap orang berbeda-beda jalan kehidupannya. Tetapi semua memiliki kewajiban yang harus ditunaikan sesuai dengan perintah Allah SWT dan tidak mengerjakan larangan-laranganNya. Rasulullah SAW pernah memberi nasehat, agar kita mengingat lima perkara. Masa muda sebelum tua, masa sehat sebelum tiba masa sakit, masa lapang sebelum masa sibuk, masa kaya sebelum tiba masa miskin, dan masa hidup sebelum tiba kematian.

 

Eckhart Tolle dalam Bukunya “The Power of Now”, sangat mengutamakan kekuatan “Masa Sekarang”, “Now”, maknanya adalah “present moment”, bukan sejam yang lalu atau sepuluh menit yang lalu, tetapi ‘sekarang’ adalah ‘sekarang’ (ketika anda membaca tulisan ini). Bagaimana kita melakukan suatu perbuatan sebaik-baiknya sekarang, namun tetap fokus untuk kepentingan di masa mendatang.

 

“Our minds are conditioned to think in terms of past, present and future. This means that we are constantly preoccupied with looking both backwards and forwards - in fact anything rather than focus on the present, the here and now. So we focus on the past because this is what gives us our sense of identity, and what has led us to the life circumstances that we currently face. And we focus on the future because this is where all our dreams, hopes and fears will play out”.

 

Jadi, jangan sia-siakan waktu “sekarang”, karena waktu begitu cepat berlalu. Kenangan masa SMA, 25 tahun yang lalu seperti baru beberapa tahun berlalu. Masa kecil berganti menjadi masa muda, masa muda berganti menjadi dewasa lalu memasuki masa tua dan akhirnya mati. Namun bisa saja sebelum tua, tetapi malaikat maut sudah datang menjemput. “...Kemudian kamu akan menjadi tua dan sebahagian dari kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. Supaya kamu sampai kepada ajal yang telah ditentukan dan supaya kamu memahaminya” (Qs Al Mu’min: 40).

 

Tinggal kita mempertanggungjawabkan: “Tentang umur kita dimana dihabiskan, tentang masa muda untuk apa dipergunakan, tentang harta di mana diperolehnya, tentang ilmunya apa yang sudah dibuat dengannya” (Al Hadits).  alvalima 

Selasa, 27 Oktober 2009

Mengasah Empatisme Diri

Berapa harga yang Anda mau bayar untuk menjadi pemimpin yang berhasil baik secara profesional maupun spiritual? Setiap orang pasti akan melakukan segala hal, tak peduli berapapun harga yang dibayarkan dan banyaknya waktu yang dikorbankan asalkan mencapai keberhasilan sebagai pemimpin yang tidak saja trampil dalam ilmu kepemimpinan namun juga cerdas emosi dan spiritual.
Percaya atau tidak, tidak peduli berapa banyaknya resources yang Anda miliki, keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak datang dari luar, ini hanya dapat dimulai dari diri Anda sendiri, dan dimulai dari dalam hati.
Anda, adalah tentang siapa Anda sebenarnya. Kepintaran, titel, senioritas, pengalaman dan supremasi sosial ekonomi mungkin dapat menjadikan Anda seorang pemimpin. Tetapi keberhasilan Anda menjadi seorang pemimpin, adalah saat Anda berlaku seperti seorang pemimpin, yakni ketika hati Anda membawa Anda pada perilaku-perilaku seorang pemimpin yang sejati.

Memimpin Diri Sendiri

Orang pertama yang Anda pimpin adalah diri sendiri. Anda tidak dapat memimpin dengan efektif sebelum Anda berhasil memimpin diri sendiri. “Kemenangan pertama dan terbaik adalah menaklukan diri sendiri” (Plato). Fokuskan, untuk mulai dari diri sendiri sehingga Anda dapat melakukan apa yang patut di lakukan untuk mempengaruhi dan menolong orang lain mencapai keadaan yang lebih baik.
Bukalah hati Anda untuk bersedia melakukan perubahan-perubahan terlebih dahulu sebelum menghasilkan perubahan-perubahan atas diri orang lain.
Spiritualitas menumbuhkan karakter-karakter positif seorang pemimpin.

Positive-Thinking

Seberapapun besarnya usaha Anda untuk menjadi pemimpin yang berhasil tidak akan cukup, sebelum merombak cara berpikir Anda terlebih dahulu menjadi lebih positif. Berpikir positif melahirkan optimisme, konsistensi, daya tahan, integritas, ide-ide cemerlang, kejujuran, kerjasama, hati yang lemah lembut, ketegasan, kewibawaan, percaya diri, belas-kasih, motivasi, efektif, pengendalian diri, menghargai orang lain, toleransi dan kesediaan membantu orang lain.
Bersihkan pikiran Anda dari segala yang mengarah pada hal-hal negatif (merusak). Dan bersihkan sekarang juga! Pikiran Anda menentukan karakter Anda.

Kendalikan pikiran Anda atau ia akan mengendalikan Anda (Horace)


Beberapa tahun silam, sebuah peristiwa luar biasa terjadi di Eropa. Para ilmuwan diberi ijin untuk mengadakan suatu percobaan yang mereka lakukan pada seorang narapidana yang telah divonis hukuman mati. Narapidana itu diikat, ditutup matanya dan didudukkan diatas meja.

Lengan narapidana itu ditoreh sedikit yang sebenarnya tidak akan sampai mengeluarkan darah. Tapi kepada narapidana itu diberitahukan bahwa darahnya akan mengalir terus sampai dia mati dan darah itu akan mengalir ke baskom seperti yang narapidana rasa dan dengar. Ilmuwan itu terus berbicara tentang perkembangan darah yang mengalir dari lengan narapidana itu. Dan narapidana tersebut semakin lemah. Dengan semua sugesti buruk yang merasuki pikirannya ini, perlahan-lahan narapidana itu mati dengan sendirinya.

Pikiran Anda adalah kekuatan besar yang mampu memberikan apa yang Anda inginkan. Ia dipengaruhi oleh semua yang kita masukkan ke dalam pikiran kita. Apa yang dipikirkan, itulah yang terjadi. Pikiran kita bisa tertipu sebagaimana cerita diatas. Narapidana itu diyakinkan bahwa dia akan mati dan pikirannya meyakinkan itu, lalu matilah dia! Yakinkan bahwa Anda telah melindungi daerah rawan Anda dari pikiran-pikiran negatif. Pikirkan hal-hal yang ingin Anda capai sekalipun saat itu Anda belum benar-benar meraihnya.

Tentukan Tujuan yang Jelas 

Kepemimpinan Spiritual memiliki visi. Pemimpin spiritual memimpin dengan tujuan dan sasaran yang jelas. Ia adalah seorang pemimpin yang memiliki pertimbangan atas apa yang dapat ia lakukan karena ia dapat berpikir dengan hasil akhir yang tampak jelas. Ingatlah, siapapun dapat mengemudikan kapal, tetapi diperlukan pemimpin untuk memetakan jalurnya terlebih dahulu!

“Rahasia kesuksesan terletak pada konsistensi kita terhadap tujuan yang telah kita tetapkan” (Distraeli)


Disiplin Diri 
Disiplin, meski dapat diajarkan dan dipaksakan, tidak akan dapat berlangsung lama jika ia tidak ditularkan dan dibiasakan. Disiplin adalah tentang komitmen. Lakukanlah segala sesuatu yang dapat membawa Anda lebih dekat kepada tujuan Anda setiap hari. Ingatlah, bahwa Anda tidak saja tengah membuat perubahan atas hidup sendiri, namun juga sedang melatih diri Anda untuk menularkannya pada orang lain.

Selalu Bertumbuh

Allah Yang Maha Besar menganugerahkan kehidupan, apa yang akan kita lakukan dengan pemberianNya tersebut menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya; kita hanya perlu menggali, menemukan semuanya dan melakukan pertumbuhan bersamaNya. Spiritualitas merupakan partisipasi aktif dan kerjasama yang indah antara kita dan Allah dalam mengembangkan kehidupan. Sebuah korelasi yang menakjubkan!

“Kita tidak berada dalam posisi dimana kita tidak memiliki apapun yang dapat digunakan untuk bekerja. Kita sudah mempunyai kemampuan, bakat, arah, misi dan panggilan”. (Abraham Maslow)


Terkadang kesuksesan, dan kemapanan mengaburkan kepekaan kita akan pentingnya melakukan pertumbuhan. Padahal, pemimpin yang tidak bertumbuh adalah pemimpin yang sudah dapat dipastikan tidak memiliki masa depan! Mereka yang tidak melakukan pertumbuhan, tidak bekerjasama mengembangkan anugerah yang diberikan Allah kepadanya.

Maka, bertumbuhlah agar potensi yang telah diberikanNya berkembang, kembangkan potensi hingga berlipat jumlahnya, tebarkan potensi itu, agar bermanfaat bagi dirimu sendiri dan orang lain, dan hingga kemudian, semuanya akan memuliakan nama Allah SWT yang memberimu anugerah kehidupan tersebut.

Anda tidak perlu berusaha keras meyakinkan orang lain, bagaimana hebatnya Anda memimpin, atau betapa besarnya keinginan Anda agar mereka mencapai keberhasilan, Anda hanya perlu menunjukkannya kepada mereka. Saat Anda telah berhasil memimpin diri sendiri dengan spiritualitas dalam hati Anda, Anda telah siap memimpin orang lain.

alvalima & alvalima

Minggu, 25 Oktober 2009

JIWA YANG TERBELENGGU

Dalam Al-Quran (Al-A’raf: 172), disebutkan bahwa ruh kita pernah bersyahadat, sekali-sekali tidak akan menyembah kecuali hanya pada Allah. Namun, manusia cenderung lupa pada perjanjian primordial yang agung itu karena telah terjerat oleh kenikmatan dunia yang bersifat sesaat, sehingga ruhani kita sulit untuk terbang ke alam Ilahi yang Mahaluas dan Mahaindah. Kenyataan ini menghentak kesadaranku, melalui perilaku burung beoku yang telanjur mencintai penjaranya. 

Dua tahun kupelihara burung beo dalam sangkar luas. Nyanyian dan celotehnya merdu menghibur, ucapan salamnya pun lucu mengecoh. Aku sayang benar kepadanya. Namun, dalam hatiku sesungguhnya selalu muncul rasa bersalah dan kasihan, mengapa aku mesti mengurung makhluk Tuhan yang, dengan sayapnya itu, mestinya secara leluasa bisa terbang bebas menikmati alam lepas? 

Saat Pembebasan Tiba 

Akhirnya, aku dekati burung beo itu. Aku panjatkan istighfar pada Allah, mohon ampun telah merampas kebebasan makhluk-Nya. Lalu kukatakan: ”Hai, temanku burung beo. Aku sangat sayang dan berterima kasih padamu. Tetapi aku juga minta maaf telah memenjarakanmu. Hari ini aku beri kamu kebebasan untuk terbang menikmati alam bebas.” 

Demikianlah, ketika aku menulis artikel ini, sudah seminggu lebih sangkar itu terbuka pintunya, tetapi burung beo itu masih juga tidak keluar. Apakah burung itu tidak mau keluar, ataukah tidak tahu bagaimana keluar? Zulfa Indira Wahyuni, putriku yang kuliah di Fakultas Psikologi menganalisis, bahwa si beo sudah terlalu lama terkurung sehingga tidak lagi mampu menangkap peluang untuk memasuki kehidupan baru. Takut untuk memasuki dunia yang lebih luas karena sudah merasa nyaman, sekalipun terpenjara. 

Seperti si beo, seseorang yang sudah lama tinggal di comfort zone tidak berani melakukan perubahan untuk mencari kehidupan baru yang lebih luas dan menantang. Ini pernah terjadi pada penghuni penjara yang sudah 20 tahun mendekam di rumah tahanan. Ketika hari pembebasan tiba, bukannya kegembiraan yang muncul, tetapi malah kegamangan menapakkan kaki ke alam bebas. Akhirnya, dia memilih melamar kerja sebagai tukang kebun rumah tahanan yang suasananya sudah menyatu dengan dirinya. 

Terbanglah Hai Sang Rajawali! 

Dalam literatur sufi, sering dituturkan kembali bahwa jiwa manusia yang bersifat ruhani bagaikan sang rajawali yang terkurung dalam sangkar tubuh. Ruh manusia berasal dari Allah dengan misi agung melaksanakan kekhalifahan Allah di muka bumi. Namun, misi keruhanian ada kalanya gagal ketika seseorang lebih tertarik pada perintah dan tawaran hawa nafsu yang menyajikan kesenangan dan kenikmatan sesaat yang bersifat badani dan emosi. Hatinya mengeras, telinganya menjadi tuli, dan penglihatannya buta terhadap Jalan Kebenaran. Demikianlah Firman Allah (QS. Al-A’raf:179), dan orang yang demikian itu derajatnya lebih hina daripada binatang. 

Belajar dari burung beo di rumahku, hendaknya kita selalu berdoa dan berusaha jangan sampai jeratan kenikmatan duniawi membuat “sang rajawali” ruhani tidak mampu terbang dan Mi’raj ke angkasa nan luas. Ia harus terbebas dari sekat dan jeratan fisik, agar ringan perjalanannya mendekat ke hadirat Allah Yang Mahakasih dan Mahaluas. Ilaahy anta maqshudy wa ridhaaka mathluby–Ya Allah, hanya Engkau yang menjadi tujuan akhir perjalanan hidup kami, dan hanya ridha-Mu yang menjadi dambaan kami. 

Comfort Zone, Apa Itu? 

Istilah zona nyaman (comfort zone) menunjuk pada keadaan, situasi, dan wilayah yang dirasakan mendatangkan rasa nyaman dan aman, sehingga seseorang enggan keluar dari sana. Namun, sesungguhnya kenyamanan itu belum tentu sejati (genuine), sebab bisa saja menipu dan membatasi terbukanya peluang untuk memperoleh kemajuan dan kebahagiaan yang lebih tinggi. 

Terdapat beragam zona nyaman yang selalu dipagari oleh seseorang dan pintunya pun ditutup rapat-rapat agar tidak terganggu oleh orang lain ataupun masuknya gagasan-gagasan baru yang menggelisahkan. Misalnya saja, seorang yang telah lama mengenakan seragam militer lengkap dengan pangkatnya, ketika jalan-jalan di tempat keramaian dengan pakaian biasa dan tidak membawa pistol, maka dirinya akan merasa kurang percaya diri. Seseorang yang sudah belasan tahun menekuni sebuah profesi, gamang hatinya untuk memasuki profesi baru. Seseorang yang di lingkungan sosialnya biasa dielu-elukan dan dihormati, jadi canggung mengikuti training yang memperlakukannya sebagaimana peserta lain yang tidak memiliki status sosial tinggi. 

Demikianlah, zona nyaman itu bisa terbentuk oleh kebiasaan dan paham yang sudah mapan, baik berupa fanatisme aliran politik, mazhab keilmuan, kelompok pergaulan, maupun paham keagamaan sehingga seseorang merasa nyaman berada dalam bangunan rumah virtual yang telah dihuni bertahun-tahun. 

Apa hubungan antara zona nyaman dan judul tulisan di atas? Yaitu, fungsi dan misi keruhanian kita sebagai Abdullah dan Khalifatullah akan gagal ketika instrumen akal, emosi, dan jiwa lebih tertarik pada kenyamanan duniawi yang bersifat sementara, sehingga melupakan kebahagiaan spiritual sejati. 

Jangan Keberatan Bagasi 

Ibarat bepergian, maka sebaiknya kendaraan kita jangan keberatan bagasi. Harta wajib diraih dengan bekerja secara halal, cerdas, dan keras. Halal, smart, and hard working. Sementara ilmu dibutuhkan untuk memakmurkan dunia. Namun, keduanya adalah instrumen, bukan tujuan dan bukan pula faktor paling esensial. Di atas keduanya ada ketakwaan. Bayangkan, seorang pendaki gunung yang keberatan bekal makanan dan peralatan. 

Bayangkan, sebuah mobil ataupun pesawat terbang yang keberatan bagasi. Maka bagi mereka itu sangat sulit untuk bisa terbang atau naik ke atas. Sementara pesawat ulang-alik yang hendak menuju bulan, memerlukan daya dorong yang sangat besar agar bisa terbebas dari gravitasi bumi. Demikianlah halnya dengan jiwa manusia. Jika masih kuat terikat dengan bagasi duniawi, pasti sulit untuk terbang mendekati Allah. Syukurlah, teman-teman yang merasa memiliki pangkat, jabatan, dan prestise yang selama ini dibangga-banggakan, ketika masuk ruang training ESQ pelan-pelan “bagasi dan topeng” itu ditanggalkan, meskipun awalnya tampaknya agak berat melepaskannya. (Prof.Dr. Qomaruddin Hidayat).

alvalima & alvalima & alvalima & alvalima

Kamis, 26 Februari 2009

NILAI SEBUAH KEIMANAN

Suatu ketika Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"

Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan sholat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."

Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama maupun dalam tata-cara berbicara, hampir saja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."

Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Maukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

alvalima@ymail.com