Minggu, 25 Oktober 2009

JIWA YANG TERBELENGGU

Dalam Al-Quran (Al-A’raf: 172), disebutkan bahwa ruh kita pernah bersyahadat, sekali-sekali tidak akan menyembah kecuali hanya pada Allah. Namun, manusia cenderung lupa pada perjanjian primordial yang agung itu karena telah terjerat oleh kenikmatan dunia yang bersifat sesaat, sehingga ruhani kita sulit untuk terbang ke alam Ilahi yang Mahaluas dan Mahaindah. Kenyataan ini menghentak kesadaranku, melalui perilaku burung beoku yang telanjur mencintai penjaranya. 

Dua tahun kupelihara burung beo dalam sangkar luas. Nyanyian dan celotehnya merdu menghibur, ucapan salamnya pun lucu mengecoh. Aku sayang benar kepadanya. Namun, dalam hatiku sesungguhnya selalu muncul rasa bersalah dan kasihan, mengapa aku mesti mengurung makhluk Tuhan yang, dengan sayapnya itu, mestinya secara leluasa bisa terbang bebas menikmati alam lepas? 

Saat Pembebasan Tiba 

Akhirnya, aku dekati burung beo itu. Aku panjatkan istighfar pada Allah, mohon ampun telah merampas kebebasan makhluk-Nya. Lalu kukatakan: ”Hai, temanku burung beo. Aku sangat sayang dan berterima kasih padamu. Tetapi aku juga minta maaf telah memenjarakanmu. Hari ini aku beri kamu kebebasan untuk terbang menikmati alam bebas.” 

Demikianlah, ketika aku menulis artikel ini, sudah seminggu lebih sangkar itu terbuka pintunya, tetapi burung beo itu masih juga tidak keluar. Apakah burung itu tidak mau keluar, ataukah tidak tahu bagaimana keluar? Zulfa Indira Wahyuni, putriku yang kuliah di Fakultas Psikologi menganalisis, bahwa si beo sudah terlalu lama terkurung sehingga tidak lagi mampu menangkap peluang untuk memasuki kehidupan baru. Takut untuk memasuki dunia yang lebih luas karena sudah merasa nyaman, sekalipun terpenjara. 

Seperti si beo, seseorang yang sudah lama tinggal di comfort zone tidak berani melakukan perubahan untuk mencari kehidupan baru yang lebih luas dan menantang. Ini pernah terjadi pada penghuni penjara yang sudah 20 tahun mendekam di rumah tahanan. Ketika hari pembebasan tiba, bukannya kegembiraan yang muncul, tetapi malah kegamangan menapakkan kaki ke alam bebas. Akhirnya, dia memilih melamar kerja sebagai tukang kebun rumah tahanan yang suasananya sudah menyatu dengan dirinya. 

Terbanglah Hai Sang Rajawali! 

Dalam literatur sufi, sering dituturkan kembali bahwa jiwa manusia yang bersifat ruhani bagaikan sang rajawali yang terkurung dalam sangkar tubuh. Ruh manusia berasal dari Allah dengan misi agung melaksanakan kekhalifahan Allah di muka bumi. Namun, misi keruhanian ada kalanya gagal ketika seseorang lebih tertarik pada perintah dan tawaran hawa nafsu yang menyajikan kesenangan dan kenikmatan sesaat yang bersifat badani dan emosi. Hatinya mengeras, telinganya menjadi tuli, dan penglihatannya buta terhadap Jalan Kebenaran. Demikianlah Firman Allah (QS. Al-A’raf:179), dan orang yang demikian itu derajatnya lebih hina daripada binatang. 

Belajar dari burung beo di rumahku, hendaknya kita selalu berdoa dan berusaha jangan sampai jeratan kenikmatan duniawi membuat “sang rajawali” ruhani tidak mampu terbang dan Mi’raj ke angkasa nan luas. Ia harus terbebas dari sekat dan jeratan fisik, agar ringan perjalanannya mendekat ke hadirat Allah Yang Mahakasih dan Mahaluas. Ilaahy anta maqshudy wa ridhaaka mathluby–Ya Allah, hanya Engkau yang menjadi tujuan akhir perjalanan hidup kami, dan hanya ridha-Mu yang menjadi dambaan kami. 

Comfort Zone, Apa Itu? 

Istilah zona nyaman (comfort zone) menunjuk pada keadaan, situasi, dan wilayah yang dirasakan mendatangkan rasa nyaman dan aman, sehingga seseorang enggan keluar dari sana. Namun, sesungguhnya kenyamanan itu belum tentu sejati (genuine), sebab bisa saja menipu dan membatasi terbukanya peluang untuk memperoleh kemajuan dan kebahagiaan yang lebih tinggi. 

Terdapat beragam zona nyaman yang selalu dipagari oleh seseorang dan pintunya pun ditutup rapat-rapat agar tidak terganggu oleh orang lain ataupun masuknya gagasan-gagasan baru yang menggelisahkan. Misalnya saja, seorang yang telah lama mengenakan seragam militer lengkap dengan pangkatnya, ketika jalan-jalan di tempat keramaian dengan pakaian biasa dan tidak membawa pistol, maka dirinya akan merasa kurang percaya diri. Seseorang yang sudah belasan tahun menekuni sebuah profesi, gamang hatinya untuk memasuki profesi baru. Seseorang yang di lingkungan sosialnya biasa dielu-elukan dan dihormati, jadi canggung mengikuti training yang memperlakukannya sebagaimana peserta lain yang tidak memiliki status sosial tinggi. 

Demikianlah, zona nyaman itu bisa terbentuk oleh kebiasaan dan paham yang sudah mapan, baik berupa fanatisme aliran politik, mazhab keilmuan, kelompok pergaulan, maupun paham keagamaan sehingga seseorang merasa nyaman berada dalam bangunan rumah virtual yang telah dihuni bertahun-tahun. 

Apa hubungan antara zona nyaman dan judul tulisan di atas? Yaitu, fungsi dan misi keruhanian kita sebagai Abdullah dan Khalifatullah akan gagal ketika instrumen akal, emosi, dan jiwa lebih tertarik pada kenyamanan duniawi yang bersifat sementara, sehingga melupakan kebahagiaan spiritual sejati. 

Jangan Keberatan Bagasi 

Ibarat bepergian, maka sebaiknya kendaraan kita jangan keberatan bagasi. Harta wajib diraih dengan bekerja secara halal, cerdas, dan keras. Halal, smart, and hard working. Sementara ilmu dibutuhkan untuk memakmurkan dunia. Namun, keduanya adalah instrumen, bukan tujuan dan bukan pula faktor paling esensial. Di atas keduanya ada ketakwaan. Bayangkan, seorang pendaki gunung yang keberatan bekal makanan dan peralatan. 

Bayangkan, sebuah mobil ataupun pesawat terbang yang keberatan bagasi. Maka bagi mereka itu sangat sulit untuk bisa terbang atau naik ke atas. Sementara pesawat ulang-alik yang hendak menuju bulan, memerlukan daya dorong yang sangat besar agar bisa terbebas dari gravitasi bumi. Demikianlah halnya dengan jiwa manusia. Jika masih kuat terikat dengan bagasi duniawi, pasti sulit untuk terbang mendekati Allah. Syukurlah, teman-teman yang merasa memiliki pangkat, jabatan, dan prestise yang selama ini dibangga-banggakan, ketika masuk ruang training ESQ pelan-pelan “bagasi dan topeng” itu ditanggalkan, meskipun awalnya tampaknya agak berat melepaskannya. (Prof.Dr. Qomaruddin Hidayat).

alvalima & alvalima & alvalima & alvalima

Tidak ada komentar: