Paling senang kalau berkumpul dengan teman-teman. Apa lagi dengan teman sekolah dahulu, baik teman di masa kuliah, masa SMA, SMP bahkan teman sewaktu SD. Seringnya berkumpul dengan teman-teman “jadul” alias jaman dulu, disebabkan karena kemudahan sarana komunikasi yang kian canggih melalui situs pertemanan di internet, baik Friendster, Twitter, MySpace, dan terutama Facebook.
Tentu saja bila bertemu, diisi dengan acara bernostalgia, berbagi cerita di masa lalu, ketika masih “jahiliyah” atau lagi “lucu-lucunya”. Acara pertemuan diatur sedemikian rupa, misalnya dengan tema “25 Tahun Kelulusan SMA” atau 20 tahun Lulus Kuliah, Small Reunion, Reuni Akbar, dan sebagainya.
Kita memang seringkali terbuai dengan kenangan masa lalu. Lagu-lagu juga acapkali berkisah tentang masa lalu seperti “Kenangan Yang Terindah”, “Memori”, “Lirih” dan lain-lain. Betapa indahnya kejadian atau peristiwa saat itu seakan-akan kita ingin mengulang kembali. Tentu saja yang kita ingat dan ingin kembali adalah masa-masa yang indah. Klub masa lalu pun bermunculan, misalnya Club Nostalgia, Komunitas 80’an untuk yang mengalami masa remaja di sekitar tahun 1980. Bahkan ada acara TV favorit seperti “Zona 80”, “Legendary Album”, “Dari Masa ke Masa” dan acara televisi lainnya yang memutar lagu atau video klip kenangan di masa lalu.
Ketika lagu kenangan diputar, ingatan kita langsung tertuju kepada masa lalu, misalnya saat-saat paling berkesan di masa remaja yang penuh dengan kenangan romantis, kisah cinta. ”Adakah semua
Masa lalu, betapapun indahnya, betapapun manisnya kenangan, tetap saja tidak dapat terulang, meskipun kita sangat mendambakannya, sedangkan bila kita terus-menerus mengenangnya tentu akan larut, membuat kita terbuai dan berangan-angan kosong. tentu saja semua ini menghabiskan banyak waktu yang sia-sia.
Masa lalu tidak saja kenangan indah, tapi juga kegetiran, kesedihan, kegundahan, keterpurukan, dan hal yang tidak mengenakkan lainnya. Disamping itu, juga banyak cacat cela, kebodohan, kekhilafan, dan bahkan dosa-dosa yang pernah kita lakukan, baik dosa besar maupun kecil yang tidak ingin kita mengingatnya. Kita tentu berharap bila doa sudah dipanjatkan, tentu Allah Yang Maha Pengampun dan Penerima Tobat akan mengampuni semua dosa-dosa kita. Keyakinan ini membuat kita merasa optimis. Namun hendaklah kita “mengenang” dosa kita sebagai sarana untuk bermuhasabah atau introspeksi diri.
Melihat perjalanan hidup di masa lalu adalah cara agar kita bisa melakukan introspeksi. Untuk itu kita harus mengenal diri kita, hakekat dan jati diri kita. Dari mana berasal, siapa diri kita, apa yang kita cari? dan mau kemana kita kelak? Pertanyan itu harus senantiasa terhujam di hati kita.
Evaluasi perjalanan kehidupan sangat penting, karena ada beberapa fase yang harus kita lalui. Setelah dari rahim ibu, lalu hidup di dunia, masih ada fase yang harus kita tempuh yakni mati dan kehidupan setelah kematian (akhirat). Kualitas kehidupan kita di akhirat tergantung dari amal perbuatan kita di dunia. Muhasabah (introspeksi) itu berguna untuk melihat sejauh mana hidup kita bermanfaat. Dan apakah kita sudah melakukan perbaikan dari kesalahan dan dosa di masa lalu? “Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal dahulunya kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian dia mematikan kamu, kemudian kamu menghidupkan kamu kembali, lalu kepadaNya kamu dikembalikan? (Qs Al Baqarah : 28)
Saat ini kita sedang menjalani salah satu fase, yakni kehidupan di dunia. Fase ini merupakan fase yang sangat penting. Setiap orang berbeda-beda jalan kehidupannya. Tetapi semua memiliki kewajiban yang harus ditunaikan sesuai dengan perintah Allah SWT dan tidak mengerjakan larangan-laranganNya. Rasulullah SAW pernah memberi nasehat, agar kita mengingat
Eckhart Tolle dalam Bukunya “The Power of Now”, sangat mengutamakan kekuatan “Masa Sekarang”, “Now”, maknanya adalah “present moment”, bukan sejam yang lalu atau sepuluh menit yang lalu, tetapi ‘sekarang’ adalah ‘sekarang’ (ketika anda membaca tulisan ini). Bagaimana kita melakukan suatu perbuatan sebaik-baiknya sekarang, namun tetap fokus untuk kepentingan di masa mendatang.
“Our minds are conditioned to think in terms of past, present and future. This means that we are constantly preoccupied with looking both backwards and forwards - in fact anything rather than focus on the present, the here and now. So we focus on the past because this is what gives us our sense of identity, and what has led us to the life circumstances that we currently face. And we focus on the future because this is where all our dreams, hopes and fears will play out”.
Jadi, jangan sia-siakan waktu “sekarang”, karena waktu begitu cepat berlalu. Kenangan masa SMA, 25 tahun yang lalu seperti baru beberapa tahun berlalu. Masa kecil berganti menjadi masa muda, masa muda berganti menjadi dewasa lalu memasuki masa tua dan akhirnya mati. Namun bisa saja sebelum tua, tetapi malaikat maut sudah datang menjemput. “...Kemudian kamu akan menjadi tua dan sebahagian dari kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. Supaya kamu sampai kepada ajal yang telah ditentukan dan supaya kamu memahaminya” (Qs Al Mu’min: 40).
Tinggal kita mempertanggungjawabkan: “Tentang umur kita dimana dihabiskan, tentang masa muda untuk apa dipergunakan, tentang harta di mana diperolehnya, tentang ilmunya apa yang sudah dibuat dengannya” (Al Hadits). alvalima
Tidak ada komentar:
Posting Komentar