Selasa, 27 Oktober 2009

Mengasah Empatisme Diri

Berapa harga yang Anda mau bayar untuk menjadi pemimpin yang berhasil baik secara profesional maupun spiritual? Setiap orang pasti akan melakukan segala hal, tak peduli berapapun harga yang dibayarkan dan banyaknya waktu yang dikorbankan asalkan mencapai keberhasilan sebagai pemimpin yang tidak saja trampil dalam ilmu kepemimpinan namun juga cerdas emosi dan spiritual.
Percaya atau tidak, tidak peduli berapa banyaknya resources yang Anda miliki, keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak datang dari luar, ini hanya dapat dimulai dari diri Anda sendiri, dan dimulai dari dalam hati.
Anda, adalah tentang siapa Anda sebenarnya. Kepintaran, titel, senioritas, pengalaman dan supremasi sosial ekonomi mungkin dapat menjadikan Anda seorang pemimpin. Tetapi keberhasilan Anda menjadi seorang pemimpin, adalah saat Anda berlaku seperti seorang pemimpin, yakni ketika hati Anda membawa Anda pada perilaku-perilaku seorang pemimpin yang sejati.

Memimpin Diri Sendiri

Orang pertama yang Anda pimpin adalah diri sendiri. Anda tidak dapat memimpin dengan efektif sebelum Anda berhasil memimpin diri sendiri. “Kemenangan pertama dan terbaik adalah menaklukan diri sendiri” (Plato). Fokuskan, untuk mulai dari diri sendiri sehingga Anda dapat melakukan apa yang patut di lakukan untuk mempengaruhi dan menolong orang lain mencapai keadaan yang lebih baik.
Bukalah hati Anda untuk bersedia melakukan perubahan-perubahan terlebih dahulu sebelum menghasilkan perubahan-perubahan atas diri orang lain.
Spiritualitas menumbuhkan karakter-karakter positif seorang pemimpin.

Positive-Thinking

Seberapapun besarnya usaha Anda untuk menjadi pemimpin yang berhasil tidak akan cukup, sebelum merombak cara berpikir Anda terlebih dahulu menjadi lebih positif. Berpikir positif melahirkan optimisme, konsistensi, daya tahan, integritas, ide-ide cemerlang, kejujuran, kerjasama, hati yang lemah lembut, ketegasan, kewibawaan, percaya diri, belas-kasih, motivasi, efektif, pengendalian diri, menghargai orang lain, toleransi dan kesediaan membantu orang lain.
Bersihkan pikiran Anda dari segala yang mengarah pada hal-hal negatif (merusak). Dan bersihkan sekarang juga! Pikiran Anda menentukan karakter Anda.

Kendalikan pikiran Anda atau ia akan mengendalikan Anda (Horace)


Beberapa tahun silam, sebuah peristiwa luar biasa terjadi di Eropa. Para ilmuwan diberi ijin untuk mengadakan suatu percobaan yang mereka lakukan pada seorang narapidana yang telah divonis hukuman mati. Narapidana itu diikat, ditutup matanya dan didudukkan diatas meja.

Lengan narapidana itu ditoreh sedikit yang sebenarnya tidak akan sampai mengeluarkan darah. Tapi kepada narapidana itu diberitahukan bahwa darahnya akan mengalir terus sampai dia mati dan darah itu akan mengalir ke baskom seperti yang narapidana rasa dan dengar. Ilmuwan itu terus berbicara tentang perkembangan darah yang mengalir dari lengan narapidana itu. Dan narapidana tersebut semakin lemah. Dengan semua sugesti buruk yang merasuki pikirannya ini, perlahan-lahan narapidana itu mati dengan sendirinya.

Pikiran Anda adalah kekuatan besar yang mampu memberikan apa yang Anda inginkan. Ia dipengaruhi oleh semua yang kita masukkan ke dalam pikiran kita. Apa yang dipikirkan, itulah yang terjadi. Pikiran kita bisa tertipu sebagaimana cerita diatas. Narapidana itu diyakinkan bahwa dia akan mati dan pikirannya meyakinkan itu, lalu matilah dia! Yakinkan bahwa Anda telah melindungi daerah rawan Anda dari pikiran-pikiran negatif. Pikirkan hal-hal yang ingin Anda capai sekalipun saat itu Anda belum benar-benar meraihnya.

Tentukan Tujuan yang Jelas 

Kepemimpinan Spiritual memiliki visi. Pemimpin spiritual memimpin dengan tujuan dan sasaran yang jelas. Ia adalah seorang pemimpin yang memiliki pertimbangan atas apa yang dapat ia lakukan karena ia dapat berpikir dengan hasil akhir yang tampak jelas. Ingatlah, siapapun dapat mengemudikan kapal, tetapi diperlukan pemimpin untuk memetakan jalurnya terlebih dahulu!

“Rahasia kesuksesan terletak pada konsistensi kita terhadap tujuan yang telah kita tetapkan” (Distraeli)


Disiplin Diri 
Disiplin, meski dapat diajarkan dan dipaksakan, tidak akan dapat berlangsung lama jika ia tidak ditularkan dan dibiasakan. Disiplin adalah tentang komitmen. Lakukanlah segala sesuatu yang dapat membawa Anda lebih dekat kepada tujuan Anda setiap hari. Ingatlah, bahwa Anda tidak saja tengah membuat perubahan atas hidup sendiri, namun juga sedang melatih diri Anda untuk menularkannya pada orang lain.

Selalu Bertumbuh

Allah Yang Maha Besar menganugerahkan kehidupan, apa yang akan kita lakukan dengan pemberianNya tersebut menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya; kita hanya perlu menggali, menemukan semuanya dan melakukan pertumbuhan bersamaNya. Spiritualitas merupakan partisipasi aktif dan kerjasama yang indah antara kita dan Allah dalam mengembangkan kehidupan. Sebuah korelasi yang menakjubkan!

“Kita tidak berada dalam posisi dimana kita tidak memiliki apapun yang dapat digunakan untuk bekerja. Kita sudah mempunyai kemampuan, bakat, arah, misi dan panggilan”. (Abraham Maslow)


Terkadang kesuksesan, dan kemapanan mengaburkan kepekaan kita akan pentingnya melakukan pertumbuhan. Padahal, pemimpin yang tidak bertumbuh adalah pemimpin yang sudah dapat dipastikan tidak memiliki masa depan! Mereka yang tidak melakukan pertumbuhan, tidak bekerjasama mengembangkan anugerah yang diberikan Allah kepadanya.

Maka, bertumbuhlah agar potensi yang telah diberikanNya berkembang, kembangkan potensi hingga berlipat jumlahnya, tebarkan potensi itu, agar bermanfaat bagi dirimu sendiri dan orang lain, dan hingga kemudian, semuanya akan memuliakan nama Allah SWT yang memberimu anugerah kehidupan tersebut.

Anda tidak perlu berusaha keras meyakinkan orang lain, bagaimana hebatnya Anda memimpin, atau betapa besarnya keinginan Anda agar mereka mencapai keberhasilan, Anda hanya perlu menunjukkannya kepada mereka. Saat Anda telah berhasil memimpin diri sendiri dengan spiritualitas dalam hati Anda, Anda telah siap memimpin orang lain.

alvalima & alvalima

Minggu, 25 Oktober 2009

JIWA YANG TERBELENGGU

Dalam Al-Quran (Al-A’raf: 172), disebutkan bahwa ruh kita pernah bersyahadat, sekali-sekali tidak akan menyembah kecuali hanya pada Allah. Namun, manusia cenderung lupa pada perjanjian primordial yang agung itu karena telah terjerat oleh kenikmatan dunia yang bersifat sesaat, sehingga ruhani kita sulit untuk terbang ke alam Ilahi yang Mahaluas dan Mahaindah. Kenyataan ini menghentak kesadaranku, melalui perilaku burung beoku yang telanjur mencintai penjaranya. 

Dua tahun kupelihara burung beo dalam sangkar luas. Nyanyian dan celotehnya merdu menghibur, ucapan salamnya pun lucu mengecoh. Aku sayang benar kepadanya. Namun, dalam hatiku sesungguhnya selalu muncul rasa bersalah dan kasihan, mengapa aku mesti mengurung makhluk Tuhan yang, dengan sayapnya itu, mestinya secara leluasa bisa terbang bebas menikmati alam lepas? 

Saat Pembebasan Tiba 

Akhirnya, aku dekati burung beo itu. Aku panjatkan istighfar pada Allah, mohon ampun telah merampas kebebasan makhluk-Nya. Lalu kukatakan: ”Hai, temanku burung beo. Aku sangat sayang dan berterima kasih padamu. Tetapi aku juga minta maaf telah memenjarakanmu. Hari ini aku beri kamu kebebasan untuk terbang menikmati alam bebas.” 

Demikianlah, ketika aku menulis artikel ini, sudah seminggu lebih sangkar itu terbuka pintunya, tetapi burung beo itu masih juga tidak keluar. Apakah burung itu tidak mau keluar, ataukah tidak tahu bagaimana keluar? Zulfa Indira Wahyuni, putriku yang kuliah di Fakultas Psikologi menganalisis, bahwa si beo sudah terlalu lama terkurung sehingga tidak lagi mampu menangkap peluang untuk memasuki kehidupan baru. Takut untuk memasuki dunia yang lebih luas karena sudah merasa nyaman, sekalipun terpenjara. 

Seperti si beo, seseorang yang sudah lama tinggal di comfort zone tidak berani melakukan perubahan untuk mencari kehidupan baru yang lebih luas dan menantang. Ini pernah terjadi pada penghuni penjara yang sudah 20 tahun mendekam di rumah tahanan. Ketika hari pembebasan tiba, bukannya kegembiraan yang muncul, tetapi malah kegamangan menapakkan kaki ke alam bebas. Akhirnya, dia memilih melamar kerja sebagai tukang kebun rumah tahanan yang suasananya sudah menyatu dengan dirinya. 

Terbanglah Hai Sang Rajawali! 

Dalam literatur sufi, sering dituturkan kembali bahwa jiwa manusia yang bersifat ruhani bagaikan sang rajawali yang terkurung dalam sangkar tubuh. Ruh manusia berasal dari Allah dengan misi agung melaksanakan kekhalifahan Allah di muka bumi. Namun, misi keruhanian ada kalanya gagal ketika seseorang lebih tertarik pada perintah dan tawaran hawa nafsu yang menyajikan kesenangan dan kenikmatan sesaat yang bersifat badani dan emosi. Hatinya mengeras, telinganya menjadi tuli, dan penglihatannya buta terhadap Jalan Kebenaran. Demikianlah Firman Allah (QS. Al-A’raf:179), dan orang yang demikian itu derajatnya lebih hina daripada binatang. 

Belajar dari burung beo di rumahku, hendaknya kita selalu berdoa dan berusaha jangan sampai jeratan kenikmatan duniawi membuat “sang rajawali” ruhani tidak mampu terbang dan Mi’raj ke angkasa nan luas. Ia harus terbebas dari sekat dan jeratan fisik, agar ringan perjalanannya mendekat ke hadirat Allah Yang Mahakasih dan Mahaluas. Ilaahy anta maqshudy wa ridhaaka mathluby–Ya Allah, hanya Engkau yang menjadi tujuan akhir perjalanan hidup kami, dan hanya ridha-Mu yang menjadi dambaan kami. 

Comfort Zone, Apa Itu? 

Istilah zona nyaman (comfort zone) menunjuk pada keadaan, situasi, dan wilayah yang dirasakan mendatangkan rasa nyaman dan aman, sehingga seseorang enggan keluar dari sana. Namun, sesungguhnya kenyamanan itu belum tentu sejati (genuine), sebab bisa saja menipu dan membatasi terbukanya peluang untuk memperoleh kemajuan dan kebahagiaan yang lebih tinggi. 

Terdapat beragam zona nyaman yang selalu dipagari oleh seseorang dan pintunya pun ditutup rapat-rapat agar tidak terganggu oleh orang lain ataupun masuknya gagasan-gagasan baru yang menggelisahkan. Misalnya saja, seorang yang telah lama mengenakan seragam militer lengkap dengan pangkatnya, ketika jalan-jalan di tempat keramaian dengan pakaian biasa dan tidak membawa pistol, maka dirinya akan merasa kurang percaya diri. Seseorang yang sudah belasan tahun menekuni sebuah profesi, gamang hatinya untuk memasuki profesi baru. Seseorang yang di lingkungan sosialnya biasa dielu-elukan dan dihormati, jadi canggung mengikuti training yang memperlakukannya sebagaimana peserta lain yang tidak memiliki status sosial tinggi. 

Demikianlah, zona nyaman itu bisa terbentuk oleh kebiasaan dan paham yang sudah mapan, baik berupa fanatisme aliran politik, mazhab keilmuan, kelompok pergaulan, maupun paham keagamaan sehingga seseorang merasa nyaman berada dalam bangunan rumah virtual yang telah dihuni bertahun-tahun. 

Apa hubungan antara zona nyaman dan judul tulisan di atas? Yaitu, fungsi dan misi keruhanian kita sebagai Abdullah dan Khalifatullah akan gagal ketika instrumen akal, emosi, dan jiwa lebih tertarik pada kenyamanan duniawi yang bersifat sementara, sehingga melupakan kebahagiaan spiritual sejati. 

Jangan Keberatan Bagasi 

Ibarat bepergian, maka sebaiknya kendaraan kita jangan keberatan bagasi. Harta wajib diraih dengan bekerja secara halal, cerdas, dan keras. Halal, smart, and hard working. Sementara ilmu dibutuhkan untuk memakmurkan dunia. Namun, keduanya adalah instrumen, bukan tujuan dan bukan pula faktor paling esensial. Di atas keduanya ada ketakwaan. Bayangkan, seorang pendaki gunung yang keberatan bekal makanan dan peralatan. 

Bayangkan, sebuah mobil ataupun pesawat terbang yang keberatan bagasi. Maka bagi mereka itu sangat sulit untuk bisa terbang atau naik ke atas. Sementara pesawat ulang-alik yang hendak menuju bulan, memerlukan daya dorong yang sangat besar agar bisa terbebas dari gravitasi bumi. Demikianlah halnya dengan jiwa manusia. Jika masih kuat terikat dengan bagasi duniawi, pasti sulit untuk terbang mendekati Allah. Syukurlah, teman-teman yang merasa memiliki pangkat, jabatan, dan prestise yang selama ini dibangga-banggakan, ketika masuk ruang training ESQ pelan-pelan “bagasi dan topeng” itu ditanggalkan, meskipun awalnya tampaknya agak berat melepaskannya. (Prof.Dr. Qomaruddin Hidayat).

alvalima & alvalima & alvalima & alvalima